TVRINews, Jakarta
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk menjaga ruang-ruang publik tetap terbuka sebagai wadah masyarakat berkumpul, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat. Menurutnya, ruang publik yang inklusif menjadi bagian penting dalam memperkuat demokrasi dan kehidupan kota.
Pernyataan tersebut disampaikan Rano saat menghadiri kuliah umum bertajuk Jalan Buntu Reformasi di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 18 Juli 2026.
Di hadapan akademisi, sejarawan, aktivis, dan mahasiswa, Rano mengatakan TIM merupakan ruang kebudayaan yang memiliki peran strategis dalam merawat ingatan kolektif bangsa sekaligus mendorong tumbuhnya budaya dialog di tengah masyarakat.
"Komitmen kami jelas. Jakarta harus tetap menjadi kota tempat masyarakat bebas berkumpul, berpendapat, dan berdiskusi tanpa rasa takut. Taman Ismail Marzuki, kampus-kampus, serta ruang publik lainnya harus selalu terbuka bagi forum-forum diskusi ilmiah dan kritis," ujar Rano dalam keterangan tertulis, dikutip tvrinews.com dari laman Pemprov DKI Jakarta, Minggu, 19 Juli 2026.
Ia menambahkan, sebagai kota metropolitan, Jakarta membutuhkan ekosistem ruang publik yang inklusif agar masyarakat dapat bertukar gagasan secara terbuka dan konstruktif.
Dalam kesempatan itu, Rano juga menyinggung transformasi sosial Jakarta melalui analogi budaya populer Si Doel. Menurutnya, kisah tersebut menggambarkan perjuangan masyarakat menghadapi modernisasi, penataan kota, hingga pemenuhan kebutuhan hunian.
Karena itu, ia menegaskan kebijakan pembangunan Jakarta harus berpijak pada kebutuhan warga, terutama dalam penyediaan hunian layak, akses pendidikan, lapangan pekerjaan, serta layanan dasar.
"Semangat kepedulian sosial harus hadir secara nyata dalam bentuk kebijakan, bukan sekadar pidato formal. Indikator keberhasilan setiap kebijakan di Jakarta adalah sejauh mana kebijakan tersebut mampu mempermudah dan memanusiakan kehidupan warga," tegasnya.
Menanggapi dinamika pembangunan dan tantangan reformasi yang dipaparkan Guru Besar Studi Asia University of Melbourne, Profesor Vedi R. Hadiz, Rano mengajak masyarakat tetap optimistis menghadapi berbagai tantangan pembangunan. Ia mengutip filosofi masyarakat Betawi, "Kalau jalan buntu jangan berhenti, cari gang, cari lorong," sebagai ajakan untuk terus mencari solusi melalui dialog dan kolaborasi.
Usai mengikuti kuliah umum, Rano meninjau Pameran Seni Kolaboratif bertajuk EVANESCENCE di Galeri Cipta 1, Taman Ismail Marzuki. Kunjungan tersebut menjadi bentuk dukungan Pemprov DKI Jakarta terhadap perkembangan seni rupa kontemporer sekaligus memperkuat fungsi TIM sebagai ruang kreativitas, ekspresi, dan interaksi budaya yang terbuka bagi masyarakat.










