Penulis: Basri A
TVRINews, Jombang
Aktivitas vulkanik Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang masih mengalami fluktuatif dalam dua hari terakhir. Namun demikian, sesuai dengan status awas yang disandangnya hingga kini, Gunung Semeru masih menyimpan bahaya erupsi yang sangat tinggi.
Hal itu disampaikan Koordinator Gunung Api dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Oktory Prambada pada saat berada di Pos Pengamatan Gunung Api Semeru di Desa Sumber Wuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Kamis (8/12/2022).
“Meskipun aktivitas vulkanik Gunung Semeru mengalami fluktuatif, namun kadar fluktuatifnya masih tinggi. Seperti dalam dua hari sebelumnya Gunung Semeru tidak mengalami Awan Panas Guguran. Namun letusan atau erupsi masih terus terjadi setiap hari, Seperti pada Kamis ini, Gunung Semeru mengalami 24 kali gempa letusan atau erupsi, sedangkan jumlah gugurannya sebanyak 6 kali,” kata Oktory.
Baca Juga: Menuju Pemilu 2024, KPU Jambi Meminta Masyarakat Periksa Nama di Aplikasi Lindungi Hakmu
Oktory juga menjelaskan erupsi atau letusan merupakan proses yang berbeda dengan guguran. Erupsi atau letusan merupakan dorongan magma yang bersumber dari perut bumi hingga keluar ke permukaan.
Sedangkan guguran merupakan kumpulan atau tumpukan dari material magma hasil dari erupsi atau biasa disebut kubah lava yang kemudian longsor melewati bukaan kawah.
“Kondisi inilah yang menyebabkan Gunung Semeru berstatus awas atau level IV hingga saat ini. Meskipun Awan Panas Guguran tidak terjadi pada Gunung Semeru, letusan atau erupsi masih mendominasi aktivitas vulkanik Gunung Semeru hingga saat ini,” ucap Oktory.
Selain bahaya primer tersebut, Gunung Semeru menyimpan bahaya sekunder yakni datangnya banjir lahar dingin Gunung Semeru. Banjir yang menyeret material vulkanik ini juga memiliki kekuatan untuk menghancurkan segala sesuatu yang berada di sepanjang daerah aliran sungai yang dilewati banjir lahar dingin Gunung Semeru.
Editor: Redaktur TVRINews
