TVRINews – Jakarta
Bank Indonesia segera merilis data survei keyakinan konsumen periode Juli.
Mata uang garuda membuka perdagangan awal pekan dengan tren positif. Rupiah melanjutkan momentum penguatannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS), didorong oleh meredanya ekspektasi pengetatan moneter global menyusul data ketenagakerjaan negeri Paman Sam yang melambat.
Berdasarkan data pasar spot pada Senin 10 Agustus 2026, nilai tukar rupiah tercatat terapresiasi 0,48% ke level Rp17.800 per dolar AS. Capaian ini memperpanjang catatan positif setelah pada akhir pekan lalu ditutup di zona hijau pada level Rp17.885 per dolar AS.
Kenaikan mata uang domestik terjadi di tengah dinamika indeks dolar AS (DXY) yang sempat berupaya bangkit di kawasan Asia. Pada pukul 09.00 WIB, indikator kekuatan greenback tersebut terpantau menguat tipis 0,12% ke posisi 99,666.
Kendati demikian, para analis menilai tekanan terhadap dolar AS belum sepenuhnya surut. Posisi indeks tersebut masih berada di kisaran level terendahnya dalam dua bulan terakhir, seiring data ketenagakerjaan periode Juli yang menunjukkan kontraksi tak terduga pada sektor tenaga kerja AS serta revisi turun tajam pada dua bulan sebelumnya.
Situasi tersebut mengubah proyeksi pasar terkait langkah lanjutan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed). Probabilitas kenaikan suku bunga acuan pada pertemuan September mendatang melandai ke kisaran 44%, turun signifikan dari pekan sebelumnya yang sempat berada di angka 67%.
Dampak lanjutan turut terlihat pada instrumen pendapatan tetap. Imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury tenor 10 tahun melunak ke kisaran 4,637%. Penurunan yield ini sekaligus memangkas daya tarik aset berbasis dolar, sehingga memberikan ruang gerak yang lebih longgar bagi sejumlah mata uang di negara berkembang, termasuk rupiah.
Selanjutnya, perhatian para pelaku pasar global kini terarah pada rilis data inflasi AS pekan ini. Konsensus memperkirakan tingkat inflasi inti bulanan berada di angka 0,2%, sementara inflasi tahunan diproyeksikan melambat menjadi 2,5% dari catatan bulan sebelumnya sebesar 2,6%. Rilis data tersebut dinilai krusial untuk membaca arah kebijakan moneter global berikutnya.
Selain faktor eksternal, dinamika pasar energi turut menjadi perhatian menyusul kenaikan harga minyak mentah Brent sekitar 1,4% ke level USD 85 per barel. Lonjakan ini dipicu oleh ketidakpastian geopolitik terkait jalur logistik Selat Hormuz, meski negosiasi jalur pelayaran alternatif antara Iran dan Oman dilaporkan mendekati tahap akhir.
Dari kancah domestik, Bank Indonesia dijadwalkan merilis data Survei Konsumen untuk periode Juli. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dalam negeri diprediksi berada di level 116, sedikit terkoreksi dari posisi bulan sebelumnya di angka 117,8. Kendati menunjukkan tren melandai, angka indeks yang berada di atas ambang batas 100 menegaskan bahwa optimisme masyarakat terhadap ketahanan ekonomi nasional masih terjaga dengan baik.
Perkembangan indikator konsumsi rumah tangga ini menjadi krusial dalam menjaga kepercayaan investor terhadap stabilitas makroekonomi, terutama setelah perekonomian nasional tercatat tumbuh solid sebesar 5,29% secara tahunan pada kuartal kedua tahun ini.









