Penulis: Yaser Tuarita
TVRINews, Kusu-Kusu
Kondisi tanah di areal rumah milik keluarga Both Noya dikawasan Kusu - Kusu Serah terbelah dan menyusut. Kondisi tanah yang amblas ini diperparah setelah digerus aliran air hujan saat curah hujan yang tinggi baru-baru ini.
Tanah yang amblas membuat bangunan rumah ikut retak yang membentuk lempengan lurus serta memanjang hingga ke lahan milik warga lainnya yang tinggal berdampingan.
Bangunan rumah yang retak dan terus bergerak mengikuti pergerakan tanah hingga membaut bagian belakang rumah terlihat semakin miring. Tanah amblas dalam area lahan milik keluarga Both Noya ini sudah mencapai setengah dari total luas areal miliknya.
"Sejak katong pung rumah (sejak rumah kami) berdiri 2009 sampai hingga 2018 tidak pernah ada hal –hal sehubungan dengan tanah terbelah, longsor, tidak pernah. Karena dulu kan ini masih satu gunung, bukit ya, lalu waktu dong (mereka) buka lahan tahun 2018, dong (mereka) potong lahan tuh itu tegak lurus seng (tidak) ada sudut, yang mana orang banyak pun pasti tahu kalau hujan itu akan longsor," ujar Both Noya saat ditemui di kediamannya, Selasa (18/10/2022)
Kondisi kerusakan lahan ini terjadi sejak dibangunnya proyek perumahan yang bersisian dengan rumah milik warga dimana AMDAL tidak diperhatikan lagi oleh pihak pengembang. Hal ini berdampak terhadap kerusakan lingkungan yang membentuk tebing yang rawan longsor.
"Makanya saat dong (mereka) potong tegak lurus, saya bilang ke dong (mereka) untuk buat talud, dong (mereka) mengiyakan, iya nanti kita bikin, tapi 2019, 2020, 2021 sampai akhirnya 2022 seng (tidak) pernah dong(mereka) bikin," ungkap Both Noya.
Both Noya selaku pemilik rumah sudah pernah berupaya melakukan kesepakatan melalui mediasi dengan pihak pengembang namun saat itu terjadi titik buntu, oleh karena itu pihaknya berencana menyelesaikan permasalahan kerusakan tanah pada areal rumah temapt tinggalnya akan menggunakan jalur hukum.
Editor: Redaktur TVRINews
