Penulis: Nanda
TVRINews, Lampung Barat
Ecoprint merupakan teknik mencetak pada kain dengan menggunakan pewarna alami dan membuat motif dari daun secara manual.
Devi menjadi seorang warga Lampung Barat yang menjadi perajin ecoprint sekaligus menjadikan ecoprint sebagai sumber penghasilannya.
Bermula dari kecintaannya menikmati tumbuhan, Devi mencoba peruntungannya di sektor ekonomi kreatif.
Menurut Devi, proses pembuatan produk ecoprint hingga siap jual memakan waktu sekitar satu Minggu. Selain itu, dalam pembuatannya juga diperlukan ketekunan dan kesabaran lebih agar menghasilkan produk unik yang berkualitas.
"Itulah sebabnya, produk ecoprint memiliki harga yang cukup mahal," kata Devi.
Dari menekuni ecoprint ini, Devi pun membuka usaha dengan label sai helau yang diambil dari Bahasa Lampung bermakna satu yang baik atau satu yang bagus.
Pada prakteknya, tidak semua jenis kain bisa digunakan dalam ecoprint, hanya kain berserat alam yang bisa digunakan.
"Selain itu, ecoprint dapat juga diterapkan pada media lain seperti kertas dan kulit," ucap Devi.
Dalam ecoprint, semua daun bisa digunakan, namun, untuk mendapatkan kualitas terbaik, Devi menyarankan menggunakan daun dengan kandungan zat tanin yang tinggi.
Dedaunan tersebut bisa didapatkan di lingkungan sekitar. Untuk menjaga keberlangsungan stok daun, Devi juga menanam tanaman yang berkualitas baik untuk digunakan dalam teknik ecoprint, seperti bunga kosmos, daun lanang, dan pakis-pakisan.
Harga produk-produk yang dihasilkan Devi cukup bervariasi mulai dari puluhan ribu rupiah hingga jutaan rupiah.
Melihat potensi ecoprint yang ditekuni Devi, Pemkab Lampung Barat berjanji akan terus mendukung usaha ini terutama dalam promosi dan pemasaran yang lebih membanggakan.
Menparekraf Sandiaga Uno pernah memesan 600 buah totebag ecoprint hasil produksinya pada saat kunjungannya dalam agenda penilaian anugerah desa wisata Indonesia di Kampung Kopi Rigis Jaya, Air Hitam, Lampung Barat pada September tahun lalu.
Editor: Redaktur TVRINews
