TVRINews, Jakarta
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno mendorong para sutradara muda dan sanggar seni untuk mengangkat sejarah Jakarta melalui pertunjukan teater dalam menyambut 500 tahun Jakarta pada 2027.
Hal tersebut disampaikan Rano saat menghadiri pementasan Sekolah Seni Yonif (SSY) bertajuk Drama Musikal Tari Putri Lopian "Bunga Belantara Dairi" di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Minggu, 30 Agustus 2026.
Berangkat dari pementasan tersebut, Rano kemudian memberikan tantangan kepada para sutradara muda dan sanggar seni untuk membuat pertunjukan yang mengangkat sejarah Jakarta dalam rangka menyambut usia 500 tahun ibu kota pada 2027. Ia mendorong agar berbagai peristiwa penting dalam sejarah Jakarta dapat diangkat menjadi karya seni, salah satunya peristiwa Geger Pecinan pada 1740.

"Saya memberikan tantangan kepada sutradara muda dan sanggar ini untuk membuat teater bertema 500 tahun Jakarta pada 2027 dengan menggali berbagai peristiwa sejarah penting, seperti peristiwa tahun 1740 (Geger Pecinan). Kami akan membantu pembiayaannya dan pementasan ini akan kita gelar kembali di panggung TIM," ujar Rano dalam keterangan tertulis, dikutip tvrinews.com dari laman Pemprov DKI Jakarta, Minggu, 30 Agustus 2026.
Kemudian Rano mengatakan, seni tidak hanya menjadi ruang untuk menampilkan kreativitas, tetapi juga dapat menjadi sarana pembentukan karakter sekaligus mengenalkan sejarah kepada generasi muda.
Menurutnya, proses anak-anak dalam berlatih dan tampil di atas panggung mengajarkan berbagai nilai, mulai dari kedisiplinan, kerja sama, keberanian hingga kemampuan mengekspresikan diri.
"Hari ini kita menyaksikan bagaimana anak-anak tampil dengan penuh keberanian dan kreativitas melalui Drama Musikal Tari Putri Lopian 'Bunga Belantara Dairi'. Bagi saya, yang paling penting bukan hanya hasil di atas panggung, tetapi proses mereka belajar, berlatih disiplin, bekerja sama, dan berani mengekspresikan diri melalui seni," ucapnya.
Ia mengapresiasi SSY yang mengangkat kisah pahlawan daerah ke dalam pertunjukan teater modern. Menurutnya, tidak mudah bagi generasi muda memainkan tokoh sejarah dari masa yang berbeda dengan kehidupan mereka saat ini.
"Tidak mudah bagi anak-anak memainkan tokoh sejarah yang berasal dari masa yang berbeda dengan mereka, seperti Sisingamangaraja. Sehingga, saya sangat bangga sanggar ini mengangkat kisah nasionalis tentang pahlawan daerah ke atas panggung teater modern," ungkapnya.
Rano menambahkan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta siap memperkuat ruang ekspresi dan kolaborasi seni melalui berbagai program kebudayaan. Salah satunya dengan mengoptimalkan kawasan Taman Ismail Marzuki sebagai ruang berkesenian.
Sejumlah fasilitas di kawasan TIM yang belum optimal juga akan dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas para pelaku seni, termasuk sebagai ruang latihan sanggar dan fasilitas bioskop.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem seni pertunjukan dan perfilman di Jakarta, sekaligus menyediakan ruang yang lebih luas bagi generasi muda untuk berkreasi.
Sementara itu, Kepala Sekolah Seni Yonif sekaligus Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) DKI Jakarta, Marulina Dewi, mengatakan SSY berkomitmen mengembangkan kecakapan hidup generasi muda melalui seni tari, teater, dan vokal secara gratis.
Dalam pementasan tersebut, lebih dari 60 anak tampil secara profesional di panggung teater. Menurut Marulina, kisah Putri Lopian Sinambela juga digunakan untuk menanamkan nilai keberanian, kesetiaan, dan pengorbanan kepada para peserta.
"Melalui kisah Putri Lopian Sinambela, kami menanamkan nilai keberanian, kesetiaan, dan pengorbanan kepada lebih dari 60 anak yang tampil secara profesional di panggung teater sesungguhnya. Kami juga menegaskan komitmen Sekolah Seni Yonif untuk terus berkontribusi dalam menyambut 500 tahun Jakarta," kata Marulina.









