TVRINews, Jakarta
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menargetkan percepatan transformasi Jakarta menjadi kota global yang berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan menjelang peringatan 500 tahun pada 2027. Sejumlah strategi disiapkan, mulai dari penguatan transportasi publik, pengembangan ekonomi kreatif, hingga pembiayaan inovatif untuk pembangunan infrastruktur.
Pramono menyampaikan hal tersebut saat menjadi pembicara kunci dalam forum “Kearney at 100, Jakarta at 500: Shaping the Next Global City Together” yang digelar bersama CNBC Indonesia di The Ritz-Carlton Jakarta Pacific Place, Jakarta Selatan, Rabu, 28 Oktober 2026.
Menurut Pramono, Jakarta menunjukkan perkembangan positif dalam persaingan kota-kota dunia. Dalam Kearney Global Cities Index 2025, Jakarta naik dari peringkat 74 menjadi 71 dari 156 kota dan masuk kategori Alpha.
“Pertumbuhan ekonomi Jakarta pada triwulan II 2026 mencapai 5,52 persen, sementara inflasi September 2026 terkendali di angka 2,71 persen,” ujar Pramono.
Ia menilai, capaian tersebut perlu diikuti dengan pembenahan infrastruktur, peningkatan kualitas pelayanan publik, serta perluasan kesempatan ekonomi agar pertumbuhan kota dapat dirasakan masyarakat secara merata.
Salah satu langkah yang terus didorong Pemprov DKI Jakarta adalah memperkuat konektivitas transportasi publik di wilayah Jakarta dan kawasan penyangga. Integrasi antarmoda diharapkan dapat mempermudah mobilitas masyarakat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.
Pramono mengatakan, perluasan layanan Transjabodetabek menjadi bagian dari strategi untuk menghubungkan lebih banyak wilayah dengan transportasi umum.
“Sejak dua tahun lalu, saya mengubah konektivitas transportasi melalui Transjabodetabek hingga cakupannya mencapai 93 persen wilayah. Pengguna Transjakarta, MRT, dan LRT hingga September 2026 telah mencapai 368,4 juta perjalanan, naik 10,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” katanya.
Selain meningkatkan konektivitas, Pemprov DKI Jakarta juga mendorong sektor ekonomi kreatif melalui penyelenggaraan berbagai acara berskala nasional dan internasional. Kegiatan olahraga, festival, hingga konser dinilai berpotensi menggerakkan sektor perhotelan, kuliner, perdagangan, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Ekonomi kreatif menyumbang sekitar Rp410,6 triliun atau 11,16 persen terhadap PDRB Jakarta. Ajang seperti Jakarta Running Festival dan konser internasional mampu memberikan dampak ekonomi hingga ratusan miliar rupiah sekaligus memperkuat posisi Jakarta sebagai destinasi perkotaan,” ungkap Pramono.
Di tengah upaya memperkuat daya saing global, Jakarta masih menghadapi sejumlah persoalan perkotaan, termasuk banjir, polusi udara, dan kemiskinan. Pemerintah daerah berupaya menangani persoalan tersebut melalui peningkatan infrastruktur dasar serta perluasan akses pendidikan dan kesehatan.
Pramono menyebut tingkat kemiskinan Jakarta tercatat sebesar 3,96 persen pada Maret 2026. Pemprov DKI juga menyediakan dukungan pendidikan melalui program beasiswa, termasuk LPDP Jakarta untuk jenjang sarjana hingga doktoral.
“Intervensi di sektor kesehatan dan pendidikan menjadi bagian dari upaya memutus rantai ketidakberuntungan, sehingga warga memiliki kesempatan lebih besar untuk meningkatkan kesejahteraannya,” jelasnya.
Menurut Pramono, pembangunan kota global tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi dan investasi. Pemerintah juga harus memastikan masyarakat memiliki akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan peluang untuk meningkatkan taraf hidup.
Keterbatasan anggaran menjadi tantangan lain dalam mempercepat pembangunan Jakarta. Untuk mengatasi hal tersebut, Pemprov DKI mengembangkan skema pembiayaan alternatif melalui Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), pembiayaan hijau, serta optimalisasi aset daerah.
Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga keberlanjutan pembangunan tanpa menambah tekanan berlebihan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Dengan adanya penurunan Transfer ke Daerah sekitar Rp15 triliun pada 2026, Jakarta mendorong pembiayaan kreatif, mulai dari KPBU, pembiayaan hijau, hingga optimalisasi aset daerah,” kata Pramono.
Ia menegaskan, momentum 500 tahun Jakarta pada 2027 harus dimanfaatkan untuk mempercepat berbagai program strategis sekaligus membuka lebih banyak peluang bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal.
“Momentum 500 tahun Jakarta harus menjadi akselerator untuk menarik talenta, kreativitas, dan investasi global, sekaligus membuka peluang luas bagi UMKM, industri kreatif, serta komunitas lokal melalui penyelesaian berbagai program pembangunan secara tuntas,” tegasnya.










