Penulis: Andika Adi Saputra
TVRINews, Pasaman Barat
Akibat mahalnya harga pupuk dan murahnya harga jual minyak membuat petani Nilam di Pasaman Barat Sumatera Barat merugi.
Bahkan beberapa titik lahan Nilam yang sudah ditanami terlihat terabaikan. Pelaku usaha penyulingan pun sepi.
Tidak sebandingnya biaya pengolahan dengan harga jual, membuat petani pasrah bahkan mengabaikan lahan mereka.Sejumlah lahan dan ladang Nilam rusak dan kurang terurus oleh pemiliknya.
Petani mengaku saat ini harga pupuk dan pestisida naik sekitar 80 persen dari harga sebelumnya, sementara harga jual minyak nilam di pasaran berkisar Rp500.000 per kilogram. Kondisi itu dinilai tidak sebanding dan akan merugi jika tetap diusahakan.
Meski demikian sejumlah petani tetap memilih panen Nilam mereka, dan berharap harga bisa kembali membaik. Mereka berharap ada andil pemerintah dalam penyelesaikan permasalahan ini.
Salah seorang pemilik sulingan Nilam, Dovi merasakan dampaknya. Aktivitas jasa penyulingan milik dia sepi pelanggan. Besarnya biaya pengolahan dan produksi membuat petani Nilam enggan datang.
Ia mengaku pengolahan Nilam hanya berlangsung beberapa kali saja dalam seminggu.
Sepinya proses penyulingan juga berdampak cukup besar bagi pekerja dan sejumlah buruh. Kondisi ini sudah terjadi beberapa bulan terakhir, dan mereka berharap ked epan harga bisa normal, yakni di atas Rp600.000 per kilogramnya.










