
dok. BPS
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta mencatat perekonomian Jakarta mengalami deflasi sebesar 0,23 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada Januari 2026.
Kepala BPS DKI Jakarta Kadarmanto menjelaskan, deflasi tersebut terutama dipicu oleh penurunan indeks harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang turun 1,57 persen, serta kelompok transportasi yang mengalami penurunan sebesar 0,69 persen.
“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama deflasi Januari 2026,”kata Kadarmanto dalam keterangan tertulis, Senin, 2 Februari 2026.
Ia merinci, sejumlah komoditas pangan memberikan andil besar terhadap deflasi, antara lain cabai merah dengan kontribusi 0,09 persen, daging ayam ras 0,07 persen, bawang merah 0,06 persen, serta cabai rawit sebesar 0,04 persen. Sementara itu, dari kelompok transportasi, penurunan harga bensin memberikan andil deflasi sebesar 0,05 persen.
Di sisi lain, beberapa komoditas justru mengalami kenaikan harga dan menahan laju deflasi. Kadarmanto menyebut emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,12 persen. Selain itu, komoditas seperti kangkung, donat, bayam, dan kursus bahasa asing masing-masing memberikan kontribusi inflasi sebesar 0,01 persen.
“Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga turut menyumbang inflasi Januari 2026 dengan andil sebesar 0,12 persen,” tambahnya.
Lebih lanjut, Kadarmanto mengungkapkan bahwa inflasi tahunan (year on year/yoy) DKI Jakarta pada Januari 2026 tercatat sebesar 3,96 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi pada Januari 2025 yang tercatat sebesar 0,14 persen.
Menurutnya, inflasi tahunan terutama disumbang oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan andil mencapai 2,46 persen terhadap inflasi tahunan Jakarta.
Editor: Redaktur TVRINews
