TVRINews – Jakarta
Pameran tunggal karya seniman Arya Sudrajat resmi dibuka di Art:1 New Museum Jakarta, menampilkan 30 lanskap jiwa serta ekosistem budaya kampung pelukis Jelekong melalui perspektif seni kontemporer.
Jejak kultural Bandung Selatan kini hadir menyapa ibu kota melalui perhelatan seni rupa bertajuk "Jelekongism". Yayasan Bubuara Jelekong Indonesia (YBJI) secara resmi membuka pameran tunggal seniman otodidak Arya Sudrajat di Art:1 New Museum Jakarta, pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Berlangsung hingga 18 Oktober mendatang, pameran ini menawarkan penafsiran ulang terhadap identitas Kampung Jelekong yang selama ini lekat dengan sebutan sentra perajin lukis.

(Seniman otodidak Arya Sudrajat (Kanan) (Foto: YBJI))
Alih-alih memamerkan karya kanvas konvensional semata, perhelatan ini merangkkum 30 karya lukis serta instalasi ekspresif yang merekam denyut kehidupan komunal. Kurator pameran, Vincent Rumahloine, menjelaskan bahwa konsep utama pameran merangkum dimensi perilaku sosial, material ruang, hingga ingatan kolektif yang menghidupkan ekosistem kreatif di kawasan tersebut.
"Jelekongism tidak hanya berbicara mengenai lukisan, tetapi juga mengenai perilaku, ruang, material, hubungan sosial, pengalaman, dan ingatan yang membentuk kehidupan seni di Jelekong," ujar Vincent sabtu 3 Oktober 2026.
Pandangan senada disampaikan oleh maestro lukis Indonesia, Sunaryo. Mengingat rekam jejak Arya Sudrajat yang sempat menjalani residensi di Selasar Sunaryo Art Space pada tahun 2017, Sunaryo menilai sang perupa memiliki kapasitas progresif dalam memperluas cakrawala seni rupa nasional. Menurutnya, pencapaian tersebut turut didorong oleh komitmen Arya dalam mengangkat potensi perupa lokal sekampungnya ke ruang apresiasi yang lebih luas.
Fondasi kultural pameran ini turut mendapat perhatian dari pemerhati seni sekaligus istri Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Grace Fadli Zon. Saat memberikan sambutan pembukaan, ia menekankan bahwa karya-karya Arya merefleksikan daya tahan masyarakat yang mengolah keterbatasan menjadi sumber kreativitas, termasuk penggunaan karung tepung sebagai media kanvas pada era 1970-an silam.
"Seni tidak lahir di ruang kosong; seni lahir dari kehidupan kolektif, dari tanah, dan dari ingatan," ungkap Grace Fadli Zon di hadapan para kolektor, budayawan, serta tamu undangan.
Sementara itu, Ketua Dewan Pengawas YBJI, Susrinah Sanyoto Sastrowardoyo, menyatakan bahwa yayasan ini didirikan untuk memberikan ruang valid bagi para perupa otodidak yang lahir dari berbagai keterbatasan. Kehadiran mereka diharapkan mampu memperkaya lanskap seni rupa modern Indonesia.
Bagi Arya Sudrajat sendiri, pameran ini merupakan medium refleksi untuk menunjukkan bahwa desanya bukan sekadar tempat produksi karya seni, melainkan ruang ekologis yang bernapas bersama tradisi dan lanskap agraris.
"Saya ingin melihat Jelekong bukan hanya sebagai kampung pelukis, tetapi sebagai ruang budaya yang hidup. Di dalamnya ada masyarakat, ada lanskap, ada sejarah, ada cara bertahan hidup, dan ada pengetahuan melukis yang diwariskan dari generasi ke generasi," tutur Arya.
Rangkaian acara pembukaan pameran yang turut dihadiri oleh pendiri Yayasan Seni Rupa Indonesia Sri Harmoko ini dimeriahkan pula oleh pementasan Tari Merak dari sanggar Lentik Rolas, mempertemukan dinamika seni tradisi Jawa Barat dengan estetika pameran seni kontemporer di jantung ibu kota.










