TVRINews, Jombang
Tingginya kebutuhan masyarakat terhadap gizi dan protein hewani memicu kebutuhan telur dan daging semakin bertambah dari tahun ke tahun. Rupanya peluang tersebut dengan jeli ditangkap seorang ibu rumah tangga di Kabupaten Jombang dengan membudidayakan burung puyuh petelur yang mudah, murah dan menguntungkan.
Budidaya burung puyuh petelur merupakan salah satu usaha yang menjanjikan. Hal ini tak lepas dari tingginya permintaan masyarakat terkait pentingnya gizi berimbang dan konsumsi protein hewani. Peluang ini rupanya ditangkap oleh Suelsi, seorang ibu rumah tangga warga Desa Penggaron, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang.
Ibu rumah tangga berusia 61 tahun ini memiliki aset burung puyuh petelur sebanyak 3.000 ekor, padahal Suelsi baru memulai budidaya burung puyuh petelur enam bulan lalu.
Baca Juga: Jelang Pertandingan Timnas vs Palestina, Erick Thohir Sidak Kesiapan Gelora Bung Tomo
Kini setiap hari Suelsi memanen rata-rata seribu butir telur puyuh dari kendang. Telur-telur puyuh ini dijual ke pasar-pasar tradisional seharga 350 rupiah per butir.
Menurut Suelsi, beternak burung puyuh petelur memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Hal itu didasari dari segi pemeliharaan yang relatif mudah dan murah, demikian juga dengan pemasarannya.
Namun hanya ada satu kendala yaitu pada faktor sulitnya mencari pakan. Jika terlambat akan berdampak pada kualitas dan kuantitas telur puyuh yang dihasilkan.
Keuntungan lain dari budidaya burung puyuh petelur yakni mampu menghasilkan daging. Biasanya burung puyuh petelur yang produktifitasnya sudah habis maka masuk kategori afkir. Burung puyuh afkir ini akan dijual di pasar-pasar tradisional untuk dikonsumsi dagingnya.










